Tidak pernah kurasakan begitu menggebu-gebu semangat dalam hatiku untuk belajar. Seperti kecanduan alkohol aku berusaha mengupgrade diri agar mampu bersaing di masa depan.
Telah banyak waktu sebelumnya, kuhabiskan hanya untuk menonton, santai menikmati masa liburan tanpa melakukan sesuatu yang berarti atau memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk mencari pengetahuan. Seringkali aku berdalih ketika ku sadari waktuku telah begitu banyak terbuang tanpa kumengerti manfaat apa yang kupetik dari setiap tindakan ku itu. Berbagai training juga sempat ku ikuti untuk membuat semangatku terus berpacu. Tapi semua usang ketika di uji oleh sang waktu. Aku kembali pada kebiasaanku yang terlalu santai.
Sebenarnya aku bukanlah anak yang bodoh dan tak mampu mengikuti perkuliahan. IPK 3,8 saat ini, merupakan hasil yang fantastik bagi ku karena hampir mencapai angka sempurna. Beberapa semester dengan mengambil 24 sks diriku berhasil beberapa kali mencetak angka 4 pada IP ku. Tapi semakin kusadari apa yang telah ku lalui 3 tahun ini, membuatku bingung karena yang ku rasakan ilmu yang selama ini ku dalami seperti angin yang berlalu tertiup jauh oleh waktu, yang ada hanya tinggal serpihan-serpihan yang masih menempel di benakku. Itupun sulit untuk ku ingat apabila kupaksakan untuk menjelajahnya lebih dalam. Semua itu seperti air yang menguap ketika diterpa panas yang menyengat. Wah bahaya dalam benakku. 3 tahun rantauanku menuntut ilmu seakan-akan hilang dalam sekejap mata, bukan karena karena aku amnesia atau kena penyakit lupa, tapi kurangnya kesadaran untuk terus mengasah otak dan menjadi tajam dalam bidangku.
Sekian lama tertidur. Walaupun ku sadar, aku seperti orang terikat, seluruh badan seakan-akan tak dapat digerakkan. Aku bertarung dalam benak ku, memaksa diri maju, namun langkah ku seperti berjalan ditempat. Terlalu lama aku bergulat dalam batin, memaksakan tubuh agar mau menuruti pikiran ku. Sampai aku sadar disaat sendiri. Aku terus menerawang, merenungi hari-hari yang biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang dapat dibanggakan. Memiliki mimpi besar (paling tidak dalam angan-anganku), aku memikirkan masa tua yang indah yang dapat dinikmati bersama istri tercinta. Kubayangkan anak-anak ku tidak akan lagi mengalami masa-masa sulit dalam berjuang mewujudkan cita-cita yang harus ku bayar mahal demi mengubah nasib. Namun aku tersentak saat melihat semuanya hanya bayangan. Kubandingkan dengan apa yang sudah kulakukan. Bagaimana mungkin aku mewujudkannya dalam benakku, jika aku hanya duduk santai, malas-malasan, atau membuang waktu dengan hal-hal yang tidak memberikan kontribusi apapun untuk mencapai cita-cita ?
Aku mulai mengingat semua yang ku ketahui tentang berbagai prinsip kesuksesan yang ku pahami. Semuanya mulai terbongkar dalam bayangan pikiran ku yang selama ini kupendam entah dibagian mana. Hati yang mau belajar, tekun, fokus, semangat, dengan keyakinan yang teguh, semua itu muncul dari benakku seolah-olah ingin menghardik dengan keras dan mengatakan ini yang harus kulakukan. Semua cerita tentang kesuksesan pun mulai bermunculan, berbagai illustrasi tentang perjuangan mewujudkan cita-cita menghampiriku dan dengan cepat mengajarkanku seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan dan sedang diceramahi gurunya.
Aku mendengarkan seruan hati bahwa hidup itu harus mau membuka hati untuk belajar, belajar dan belajar. Tanpa mau belajar bagaimana bisa sukses ? Bagaimana mungkin kau bisa bersaing dengan orang luar yang jauh lebih menguasai IPTEK . Bisa –bisa kamu hanya akan menjadi kelas bawahan yang selalu ditindas. Menjadi kuli yang selalu disuruh-suruh oleh orang asing. Hidup di Negeri yang merdeka katanya, ternyata menjadi budak di negeri sendiri. Ajaran pertama yang masuk dalam logikaku tanpa bisa dibantah oleh pikiranku yang biasanya selalu berkecambuk.
Yang kedua Ketekunan. Mana mungkin orang bisa sukses tanpa tekun dalam belajar, bekerja dan berusaha. Aku ingat ketika pertama kali belajar main gitar. Rasanya sulit memainkan alat musik ini. Untuk menggerakkan jari jemariku dari grip yang satu ke grip yang lain, aku bagaikan bayi yang baru belajar merangkak. Itupun kadang kala ku bantu dengan tangan ku yang satu untuk memindahkannya. Tapi berkat ketekunan, hari demi hari gerakan jariku semakin lincah menari-nari di atas senar gitar. Aku begitu senang saat mampu memainkan sebuah lagu. Rasanya luar biasa saat itu. Itulah hasil dari sebuah kata tekun.
Yang ketiga fokus. Memang sudah dasarnya manusia ingin mengerti semua hal. Segala sesuatu dipelajari, kalau bisa harus paham semuanya, menjadi orang hebat dan serba bisa. Tetapi berbeda dengan hukum alam yang sudah digariskan sang pencipta, kita harus memilih dan fokus pada apa yang kita kerjakan. Tanpa fokus maka kita akan diombang-ambingkan oleh tawaran-tawaran dunia yang kelihatannya semua menguntungkan, namun ternyata membuat kita menjadi orang plin-plan yang tidak memiliki ketetapan hati dalam mengejar cita-cita. Untuk itu perlu fokus ketika mengejar mimpi-mimpi kita supaya dapat menjadi seseorang yang ahli dalam bidangnya.
Yang ke empat semangat. Kata ini sering kali kita dengarkan tapi sulit untuk dilakukan apalagi jika hati dalam keadaan gundah-gulana. Namun tanpa semangat semua yang dikerjakan seakan-akan berat adanya. Orang yang hilang semangat seperti orang yang hidup segan matipun tak mau. Seperti zombi yang hidup namun sesungguhnya telah mati. Untuk itu semangat sangat diperlukan.
Dan terakhir keyakinan teguh. Yang satu ini sangat sulit dilakukan. Hanya segelintir orang yang memiliki tekat seperti ini. Tapi tanpa yang satu ini maka 4 prinsip diatas akan tersisihkan oleh sang waktu. Tanpa membantahnya aku mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa bisa berkelit lagi, lidahku menjadi kaku dalam bayanganku, menuruti semua falsafah yang ku pahami dalam petualanganku.
Sampai akhirnya ku berkata pada diriku kali ini aku tidak mau lagi kalah dalam tantangan sang waktu, tidak mau lagi tersisihkan oleh gelapnya malam dan tidak mau lagi goyah oleh panasnya terik matahari. Aku mau bertualang merasakan sari pati kehidupan yang akan siap menghadangku, menghajarku atau melenakanku dan aku mau Menaklukkannya. Kusampaikan desah hatiku pada sang pencipta, tetapkanlah hatiku dan teguhkanlah jiwaku dalam hangatnya mimpi masa depanku. Sampai masa akhir hayatku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar